SESUATU YANG INDAH AKAN SULIT UNTUK DICAPAI

Rabu, 28 Mei 2014

Dua rasa dari kutub yang berlawanan, seolah tarik menarik dan berusaha saling mengalahkan

Ada rasa yang berbeda ketika seorang teman mengabarkan kehamilannya atau kelahiran anaknya. Bukan sebuah perasaan sederhana. Baik dan buruk tercampur. Antara turut senang, antusias, sedih, dan iri.
Dua yang terakhir tentu saja lebih mudah dijelaskan penyebabnya. Karena aku sendiri belum mengalaminya (hamil dan melahirkan), maka ada perasaan sedih dan iri itu. Sedih karena seolah-olah hanya jadi penonton dan tak tahu kapan akan mendapatkan kesempatan yang sama. Iri karena merasa mendapat ketidakadilan. Dulu di tahun-tahun pertama perkawinan, aku bisa sampai kesal sekali jika mendengar kabar gembira itu dari pasangan yang menikah setelah kami. Rasanya seperti kalah dalam semacam lomba yang entah diselenggarakan dan dipopulerkan oleh siapa.
Soal senang dan antusias itu sebenarnya sebuah keajaiban. Yang hamil atau melahirkan orang lain, tidak ada hubungannya denganku, tetapi kenapa senang dan antusias itu bisa timbul juga? Kalau teman-teman yang sudah pernah mengalaminya sendiri ikut senang dan antusias karena mengingatkan pada pengalamannya sendiri, mungkin yang terjadi padaku adalah senang dan antusias karena masih ada satu prasangka baik: suatu saat nanti aku akan mengalaminya juga.
Dua rasa dari kutub yang berlawanan, seolah tarik menarik dan berusaha saling mengalahkan. Mana yang menang?
Beberapa minggu yang lalu, seorang teman bercerita tentang sahabatnya yang juga mengalami hal serupa denganku . Di usia perkawinannya yang kalau tidak salah sudah lebih dari tujuh tahun, mereka juga belum dikaruniai keturunan. Menurut cerita temanku itu, sahabatnya tersebut bahkan selalu menghapus kontak teman-teman di ponsel blackberry-nya kalau mereka hamil, melahirkan, lalu memajang foto bayi mereka sebagai foto profil. Eh, sebenarnya yang melakukan itu suaminya, sih. Namun itu dilakukannya demi melindungi sang istri yang selalu menangis tiap kali melihat foto bayi baru lahir milik teman-temannya.
Mendengar cerita itu, aku termangu. Tentu saja aku mengerti sekali perasaan itu. Bukan tidak pernah aku merasakan kesedihan yang sama hingga benar-benar menangis. Dan bukan tidak pernah aku pun mengadukan kesedihan itu pada suamiku. Tapi bagaimanapun, aku maupun suamiku tidak pernah sampai menghapus kontak teman-teman yang memajang foto anak-anak mereka. Yang terjadi malah sebaliknya: aku senang sekali berlama-lama memandangi bayi-bayi itu atau bahkan sang calon ibu dengan perut hamil mereka. Apalagi kalau orangtua sang bayi termasuk teman dekat. Jadi kalau ada perempuan yang punya hobi melihat foto-foto baju, tas, atau sepatu di toko online, aku punya hobi melihat foto-foto bayi dan perut ibu hamil, juga lihat-lihat baju tas sepatu buat anak-anak. kadang di pasar aja sering mandanginnya, n ntah kapan bisa memilikinya!!!  Hahhahaha.
Sebenarnya wujud antusiasmeku atas kehamilan atau persalinan orang lain masih lebih jauh dari sekedar memandangi bayi-bayi atau perut ibu hamil itu. Sejak tahun pertama perkawinan, aku juga sudah rajin sekali mengikuti wacana-wacana kehamilan, persalinan, perawatan bayi dan balita  hingga pendidikan anak. Mulai dari nimbrung dalam percakapan teman-teman yang sudah menjadi ibu sampai mencari informasi sendiri melalui buku dan situs-situs di internet. Tidak jarang aku tahu lebih dulu keberadaan akun yang giat menyebarkan informasi seputar kehamilan, persalinan atau parenting dan kemudian meneruskannya kembali pada teman-teman yang benar-benar membutuhkan (sedang hamil, akan bersalin, atau sedang pusing soal parenting).
Kalau dipikir-pikir, aku sendiri pernah merasa aneh. Semua wawasan itu belum tentu kubutuhkan (jika aku memang tidak akan pernah hamil dan berketurunan) dan bisa saja justru membangkitkan kesedihan karena semakin mengingatkanku pada kondisiku sendiri. Tapi itu kalau dipikir.:(

Tidak ada komentar: