SESUATU YANG INDAH AKAN SULIT UNTUK DICAPAI

Minggu, 22 Juni 2014

Sekilas Info Tentang Rahim Terbalik


Rahim terbalik atau uterus retofleksi adalah suatu kondisi dimana puncak rahim terletak di belakang dan atau bawah rongga panggul. Penyebabnya tidak diketahui, umumnya merupakan bawaan sejak lahir. Pada saat hamil di atas tiga bulan, umumnya sulit mengetahui apakah rahim Ibu terbalik atau tidak karena rahim sudah membesar dan keluar dari rongga panggul.
Repotnya, ada sekitar 30% wanita yang posisi rahimnya disebut retrofleksi, atau dalam istilah awam disebut “tebalik”. Kondisi ini bisa diketahui dokter kandungan saat periksa dalam. Nah, jika kebetulan sperma yang akan membuahi sel telurnya juga “lamban”, maka kondisi rahim “terbalik” ini memang tidak menguntungkan. Mengapa? Pada kondisi rahim yang “terbalik”, sehabis berhubungan intim biasanya cairan sperma (yang pada dasarnya memang sudah “lamban”) seolah-olah tumpah keluar tanpa sempat membuahi.
Rahim Terbalik / Uterus Retrofleksi terjadi jika posisi rahim letaknya membelakangi pelvis. Kondisi ini bisa jadi karena tertekuk, rebah kebelakang atau rahim terbalik. Pada kondisi normal, rahim sebagai oragan tempat bayi tumbuh dan berkembang letaknya cenderung condong kearah perut atau tegak terhadap pelvis.
Rahim yang rebah bisa terjadi jika rahim tak pernah dikembalikan keposisi yang benar selama masih anak-anak atau memasuki usia dewasa. Rahim rebah juga bisa terjadi karena endometriosis atau uterine fibroid yang sama-sama menyebabkan parut atau bintil-bintil yang berakibat pada perubahan posisi rahim.
Banyak wanita tidak menyadari bahwa posisi rahimnya rebah sampai kemudian merasakan adanya keluhan.
Gejalanya antara lain : rasa sakit saat haid atau berhubungan seks, mudah ngompol, infeksi saluran kencing, dan keluhan ketidaksuburan. Sebagian besar rahim rebah atau tipped uterus ditemukan saat pemeriksaan oleh ginekolog.
Perawatan terhadap keluhan rahim rebah dilakukan dengan sedikit operasi kecil. Maksudnya untuk melakukan koreksi. Cara lain bisa dengan senam khusus, meskipun hasilnya bersifat sementara. Selain itu ada alat serupa silicon yang dimasukan melalui vagina untuk memperbaiki letak rahim yang rebah.
Rebah rahim tidak selalu menyebabkan masalah kesuburan dan kehamilan. Sperma masih mampu mencapai sel telur untuk terjadinya pembuahan. Tapi perlu dilakukan koreksi posisi rahim pada akhir trimaster pertama. Jarang terjadi rahim rebah pada ibu hamil menyebabkan keguguran. Mayaritas kehamilan dengan kondisi rahim rebah bias mencapai cukup bulan dan tidak ada komplikasi yang dialami ibu dan bayinya. Rahim terbalik atau rebah terjadi pada sekitar 20% wanita diseluruh dunia, meskipun dilaporkan tidak menyebabkan komplikasi selain keluhan sakit.
Umumnya gejala yang paling mudah dikenali antara lain :
* Merasa kesakitan saat berhubungan seks atau dyspareunia
* Sakit selama haid (dysmenorrhea)
* Sakit pada pinggan bagian bawah
* Sering terkena infeksi saluran kencing
* Sering mengompol
* Sakit saat memakai pembalut tampon
* Keluhan kesuburan
Jika merasakan sebagian keluhan diatas, sebaiknya segera pemerikasaan kedokter kandungan untuk pemeriksaan lebih detail. Biasanya akan dilakukan pemerikasaan pelvis dan USG.
Hal lain yang perlu dilakukan :
► Olahraga, melakukan gerakan menarik lutut ke dada dapat memperbaiki letak rahim.
► Pessaries, sejenis plastic silicon yang dimasukkan ke rahim melalui vagina untuk mendukung agar rahim berada pada posisi yang seharusnya. Namun pemakaiannya hanya bersifat sementara.
► Pembedahan, operasi kecil dilakukan untuk melakukan koreksi dengan tujuan mereposisi ulang rahim dengan memotong dan memperpendek ligament yang menyokongnya. UPLIFT adalah bedah laparoskopi yang dilakukan dengan bantuan kamera mini.

Posisi Berhubungan Intim Untuk Rahim terbalik
Untuk mengatasinya, seseorang yang memiliki rahim terbalik dianjurkan untuk melakukan modifikasi posisi. Posisi yang disarankan adalah posisi menunduk atau menungging dan arah penetrasi pasangan dari belakang. Dengan posisi ini, mulut rahim akan searah dengan arah keluarnya sperma.
Setelah ejakulasi, jangan langsung berbaring terlentang atau berdiri. Usahakan tetap pertahankan posisi menunduk atau menungging sekitar 15 menit. Tujuannya untuk memberi kesempatan sperma berenang masuk ke dalam rahim dan menemui sel telur di saluran tuba (tuba fallopi). Dengan demikian, kehamilan diharapkan akan terjadi.
Semoga bermanfaat

Tidak ada komentar: